Beberapa hari ini aku memiliki tempat favorit di salah satu sudut kamarku di asrama. Tempatnya tepat di bawah jendela. Jika aku sedang berada di kamar maka dapat dipastikan bahwa aku menempel di sana. Wilayah itu menjadi daerah kekuasaanku, meskipun sebenarnya kamarku di asrama dihuni oleh empat orang mahasiswi.
Jangan Tanya mengapa aku begitu suka pada salah satu sudut di kamarku itu! Sebab aku sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Aku hanya merasa nyaman berada di sana sambil membiarkan detik berlalu melewatiku. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di sana. Duduk menyandar di bawah jendela sambil membaca, mengerjakan tugas kuliah yang entah mengapa mulai membuatku merasa terbebani, bahkan tidak jarang aku justru tertidur di sana. Yang terakhir ini sering diprotes oleh teman kamarku. Padahal selama ini mereka adem anyem saja dengan apapun yang kulakukan di kamar.
MudaH dimengerti mengapa akhirnya mereka protes. Kebiasaan baruku tertidur di lantai tanpa alas apapun jelas bukan kebiasaan baik. Terutama jika mengingat bahwa paru-paruku sempat bermasalah saat aku masih duduk di bangku SMA. Aku bisa membayangkan bagaimana marahnya mama dan bapakku jika mereka tahu bahwa belakangan ini aku sering tertidur di lantai. Bisa-bisa aku digiring pulang ke Makassar!
Tetapi itu lah aku, aku yang memang suka mencari gara-gara dengan apapun kelemahanku. Aku yang memang susah diberitahu meskipun fitri (teman kamarku) tampaknya sudah bosan mengingatkanku.
Akhirnya saat di mana aku harus bertobat datang juga. Ini terjadi pada suatu siang di hari Jumat. Lagi-lagi aku kembali tertidur di sudut favoritku itu. Tertidur di lantai ketika sedang membaca sebuah buku yang lebih pantas kujadikan bantal saking tebalnya. Aku tiba-tiba saja terbangun karena merasakan gatal dan perih di kelopak mataku.
Seekor semut telah nekat menggigit kelopak mataku. Aku segera bangkit dan berdiri di depan cermin. Manyun, hanya itu yang dapat kuperbuat ketika melihat tampang bangun tidurku yang disertai dengan bengkak di kelopak mata. Sebuah jejak manis yang ditinggalkan sang semut untukku.
Fitri yang kebetulan sedang berada di kamar cukup terhibur melihat pemandangan mataku yang seperti orang bintitan. Ia yang selama ini mengingatkanku untuk berhenti melancarkan aksi tertidur di lantai. Sekarang tamat lah aku ketika seekor semut berhasil membuatku berfikir seribu kali untuk mengulang kebiasaan buruk ini.
Saat itu juga kulirik tempat tidurku yang empuk. Yang belakangan ini tampak rapi karena seluruh aktifitasku berpindah ke sudut favorit. Tempat tidurku yang belakangan ini sepi dari tumpukan buku Karena buku-buku itu sedang hijrah ke lantai kamar.
Sepertinya aku harus segera kembali ke habitat asliku!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar