Selasa, 31 Maret 2009

Airnya Mata

Apa yang akan kau lakukan jika sedang tersudut? Jika kau telah begitu lemah dan tak tahu lagi cara mempertahankan diri? Jika kau tanyakan padaku, maka jawabanku adalah “mengeluarkan senjata terakhir”

Itu yang terjadi padaku pada 23 Maret lalu. Ketika hatiku benar-benar sedang tersudut. Ketika aku tidak menemukan cara untuk mempertahankan diriku dari rasa sepi. Maka aku pun mengeluarkannya. Mengeluarkan senjata terakhirku. Senjata yang selalu mampu memberikanku ketenangan di detik-detik terakhir. Senjata itu “air mata”

Sepi memang menjadi teman setiaku belakangan ini. Sepi yang hanya ada di salah satu sudut kecil di hatiku, yang menyapaku tiap kali aku terdiam menarik nafas. Saat-saat seperti itu, aku benar-benar merasa terbuang.

Kulakukan segala cara untuk berkompromi dengan sepi itu. Kuajak dia memasuki dunia bacaanku, tempat pelarian teramanku. Kuharap dengan begitu ia mau memusuhiku. Mau berhenti bertamu ke hatiku.

Berhati-hari aku mencobanya, tetapi aku gagal! Sepi itu masih ada, ia begitu setia ternyata.

Maka menangislah aku. Menangisi kesetian sang sepi pada diriku…

Saat itu aku bisa melihat diriku bertahun-tahun lalu. Diriku yang juga mebiarkan air terjatuh dari mataku. Diriku yang masih kanak-kanak. Aku yang selalu menangis jika tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku yang mulai menangis jika mulai merasa tidak diperhatikan oleh bapak dan mama. Aku yang menangis ketika dimarahi oleh bapak dan mama. Aku yang menangis ketika terjatuh. Aku yang menangis ketika dimusuhi oleh salah seorang teman. Aku yang menangis ketika kehilangan barang. Aku akan terus menangis sampai Bapak datang dan membujukku untuk berhenti.

Entah mengapa aku yang masih kanak-kanak memilki begitu banyak alasan untuk menangis. Dan Sekarang, aku yang tidak lagi bisa disebut kanak-kanak ini menangis lagi.

Ippa, apa yang kau tangisi?

Apa ada yang ingin kau miliki namun tak dapat kau gapai? Apa kau sedang merasa tidak dipedulikan? Apa ada yang sedang memarahimu? Apa kau habis terjatuh? Apa ada yang sedang memusuhimu? Apa ada yang hilang dari genggamanmu?

Sudah lah, kau bukan anak TK lagi kan? Hapus air matamu! Karena kali ini tidak akan ada yang datang dan membujukmu untuk berhenti menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar