Minggu, 29 Maret 2009

Be my friend

Sebenarnya, seperti apa teman itu?"

Pertanyaan ini, dulu_dulu sekali_ begitu sering meminta perhatianku. Ketika aku duduk dan tertawa bersama mereka yang kusebut teman, ketika kami mulai bertengkar kecil, bahkan ketika aku pulang ke dalam kesendirianku tanpa mereka, maka pertanyaan ini akan meminta perhatianku.

Aku menyebut mereka sebagai teman. Tapi sebenarnya seperti apa teman itu?

Ketika kami mulai begitu akrab, ketika aku bisa menyebut mereka sebagai saudara, ketika aku berani mengatakan bahwa aku mungkin tak bisa melakukan apapun tanpa mereka, maka lagi-lagi sebuah pertanyaan akan meminta perhatianku.

" benarkah mereka ingin menjadi temanku?"

Bukankan aku tidak pernah menanyakan ini pada mereka? Kami hanya dipertemukan oleh waktu dan ruang yang sama, sesuatu yang membuat kami menjadi saling berhubungan, saling berbagi. Tapi benarkah mereka ingin menjadi temanku? Benarkah mereka yang memilih menjadi temanku dan bukan karena kondisi yang memilih mereka? Bagaimana jika tiba-tiba kami tak berlari pada waktu dan ruang yang sama? Bagaimana jika tiba-tiba kami tidak saling membutuhkan lagi hingga tak perlu berbagi apapun? Masih kah mereka menyebutku teman?

Bukankah sebagian dari mereka seperti itu? Mereka yang kusebut teman, yang perlahan mulai hilang dari kehidupanku. Mereka yang terampas oleh waktu karena kami tidak lagi berkutat pada ruang yang sama. Karena dewasa memutuskan untuk memisahkan kita yang tak tahu lagi harus berbagi apa.

Karena itu, aku menanyakan padamu di awal perkenalan kita, " Would you be my friend?" Sekedar untuk meyakinkan ku bahwa aku memiliki seorang teman yang benar-benar kuyakini ingin menjadi temanku. Dan "iya" mu cukup untuk membuatku berkata "aku tidak sendirian"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar