Senin, 15 Desember 2008

Aku Yang Munafik

Lo tuh munafik!”

Seorang teman mengatakan hal ini kepadaku pagi tadi. Munafik. Ia menganggap aku seperti itu. Lalu marahkah aku, tersinggungkah diriku? Tidak juga, bahkan mungkin sama-sekali tadi. Aku kaget. Tentu saja. Bagaimana mungkin orang yang baru kukenal hampir empat bulan, berani mengataiku munafik? Tapi tak ada marah yang terselip di sana. Kurasa setan tak berhasil mendekatiku hari ini. Jika ada makhluk yang patut kujadikan sebagai kambing hitam jika aku berbuat keburukan__ termaksud marah__ maka dia lah makhluk itu.

Awalnya aku yang tak suka dipersalahkan ini ingin mengelak, mana ada orang yang terima dicap munafik? Setidaknya mayoritas manusia tak akan diam saja jika dicap seperti itu. Namun akhirnya kuurungkan. Mengapa? Karena dengan segala kesadaranku aku tahu, aku sering memilih menjadi “munafik”.

Seperti yang pernah diajarkan oleh guruku dulu, salah satu ciri orang-orang munafik adalah khianat. Sekali lagi. Dengan segala kesadaranku aku tahu, aku kadang memilih menjadi khianat. Parahnya, aku memilih melakukan hal tercela ini pada diriku sendiri. Seberapa sering hatiku melarang melakukan kebatilan, tapi otakku mengkhianatinya? Memilih untuk melakukan dengan berbagai pertimbangan yang menguntungkan. Seberapa sering aku bersikap mencintai sesuatu yang sebenarnya sangat dibenci oleh hatiku? Seberapa sering kepalaku mengangguk ketika hatiku menggeleng? Seberapa sering hatiku berucap lirih rindu pada-Nya, tapi langkahku justru menjauhi-Nya perlahan dan bukan berlari mendekati-Nya? Bolehkah aku menyebut ini sebagai pengkhianatan?

” Lo tau Lo bisa, Lo pengen, tapi lo gak mau ngambil resiko. Lo terikat dalam lingkaran aman dan lo gak berani keluar dari sana”

Aman. Bukankah menurut Abraham Maslow rasa aman ada pada tingkat kedua pada lima hirearki kebutuhan manusia? Aku masih manusia bukan? Apa ini jawaban mengapa aku cenderung tak ingin mengambil resiko? Terbuktikah pemikiran bapak humanisme ini pada diriku? Salahkah aku yang menyukai hangatnya selimut “aman”? Aman. Inikah yang membuatku sering kali memilih menjadi munafik?